Tata Cara Salat Jenazah Empat Takbir dan Bacaan-Bacaannya Berdasarkan Sunnah Nabi ﷺ
Salat jenazah merupakan salah satu kewajiban kaum muslimin terhadap saudara seiman yang wafat. Ibadah ini memiliki tata cara khusus yang berbeda dengan salat pada umumnya, baik dari segi rukun, bacaan, maupun jumlah takbirnya. Rasulullah ﷺ telah mencontohkan pelaksanaan salat jenazah secara sempurna, sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai hadis shahih.
A. Salat Jenazah dengan Empat Kali Takbir
Salat jenazah dilaksanakan dengan empat kali takbir, tanpa rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, maupun tasyahud. Hal ini ditegaskan dalam hadis sahih riwayat Imam Al-Bukhari.
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا
Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id bin Al Musayyab, dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat salat, membariskan shaf, lalu takbir empat kali. (HR Bukhari, 1168)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ وَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id bin Al Musayyab, dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Lalu beliau keluar bersama mereka menuju tanah lapang, kemudian membariskan mereka dalam shaf, lalu beliau bertakbir empat kali". (HR Bukhari, 1247).
Hadis ini menjadi landasan utama bahwa jumlah takbir dalam salat jenazah yang disunnahkan adalah empat kali, sebagaimana praktik Nabi ﷺ.
B. Bacaan-Bacaan dalam Salat Jenazah
1. Bacaan Pada Takbir Pertama
Setelah takbir pertama, disunnahkan membaca: Ta’awudz, Surat Al-Fatihah, Surat dari Al-Qur’an dan Shalawat kepada Nabi ﷺ
- Dalil membaca ta’awudz bersumber dari keumuman perintah Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:
إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
(QS. An-Nahl: 98)
- Adapun dalil membaca Al-Fatihah dan surat dalam salat jenazah adalah sebagai berikut
عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَجَهَرَ حَتَّى أَسْمَعَنَا فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذْتُ بِيَدِهِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ : سُنَّةٌ وَحَقٌّ.
Dari Thalhah bin Abdullah bin Auf ia berkata, “Saya salat jenazah di belakang Ibn Abbas, maka beliau membaca Al Fatihah dan surat dan menjaharkannya hingga terdengar oleh kami. Ketika selesai, saya memegang tangan beliau dan bertanya kepadanya mengenai hal itu. Beliau menjawab, “itu adalah sunnah dan benar”. (HR. An-Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro, 2:448).
dan dalam hadits lain dijelaskan
وَلِلْحَاكِمِ مِنْ طَرِيقِ اِبْنِ عَجْلَانَ أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ سَعِيدٍ يَقُول : صَلَّى اِبْنُ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَجَهَرَ بِالْحَمْدِ ثُمَّ قَالَ : إِنَّمَا جَهَرْت لِتَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ .
Berdasarkan riwayat Al-Hakim melalui jalan Ibn ‘Ajlan, sesungguhnya Sa’id bin Sa’id berkata, “Ibnu Abbas salat jenazah dengan menjaharkan Al-fatihah, kemudian berkata, ‘Aku menjaharkan hanyalah supaya kamu mengetahui bahwa pekerjaan itu adalah sunnah Nabi saw.’” (Tuhfatul Ahwadzy, 3:84).
- Dalil membaca shalawat Nabi
Shalawat kepada Nabi ﷺ juga termasuk bacaan penting setelah takbir pertama, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Al-Baihaqi, bahwa urutan sunnah salat jenazah adalah membaca Al-Fatihah, kemudian bershalawat, lalu memperbanyak doa untuk jenazah pada takbir-takbir berikutnya.
عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلٍ : أَنَّهُ أَخْبَرَهُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- : أَنَّ السُّنَّةَ فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى سِرًّا فِى نَفْسِهِ ، ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيرَاتِ لاَ يَقْرَأُ فِى شَىْءٍ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ.
Dari Imam Az Zuhry, ia berkata, “Abu Umamah bin Sahl telah memberitahukan bahwasanya seseorang dari sahabat Nabi saw. telah memberitahukannya, “Sesungguhnya sunnah di dalam salat jenazah itu hendaklah imam bertakbir kemudian membaca Al-fatihah dengan sir setelah takbir pertama, lalu membaca shalawat atas Nabi saw., mengikhlaskan do’a untuk jenazah pada takbir-takbir (yang tiga), dan tidak membaca surat apa pun pada ketiga takbir itu, kemudian mengucapkan salam secara sir. (HR Baihaqi dalam As-Sunanul Kubro, 4: 38; Musnad As-Syafi’i: 620)
Adapun bacaan Shalawat
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.’
( H.R Muslim No 405 )
2. Bacaan Setelah Takbir Kedua
Setelah takbir kedua, disunnahkan membaca doa khusus untuk jenazah, di antaranya doa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa 'Aafihi Wa'fu 'Anhu Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi' Mudkhalahu Waghsilhu Bilmaa`I Wats Tsalji Wal Baradi Wa Naqqihi Minal Khathaayaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadla Minad Danasi Wa Abdilhu Daaran Khairan Min Daarihi Wa Ahlan Khairan Min Ahlihi Wa Zaujan Khairan Min Zaujihi Wa Adkhilhul Jannata Wa A'idzhu Min 'Adzaabil Qabri Au Min 'Adzaabin Naar.
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia; muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya; bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).” (HR Muslim, 1600)
Doa ini berisi permohonan ampun, rahmat, keselamatan dari siksa kubur, serta dimasukkan ke dalam surga Allah ﷻ.
3. Bacaan Setelah Takbir Ketiga
Setelah takbir ketiga, dibaca doa yang mencakup seluruh kaum muslimin, baik yang hidup maupun yang telah wafat:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا
اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ
Allahummaghfirli Lihayyina Wa Mayyitina Wa Syahidina Wa Ghaibina Wa Shaghirina Wa Kabirina Wa Dzakarina Wa Untsana. Allahumma Man Ahyaitahu Minna Fa Ahyihi 'Alal Islam Waman Tawaffaitahu Minna Fa Tawaffahu 'Lala Iman.
“Ya Allah, ampunilah orang yang masih hidup di antara kami dan orang yang sudah meninggal, orang yang hadir di antara kami dan orang yang tidak hadir, orang yang masih kecil di antara kami dan orang yang sudah tua, yang laki-laki dan yang perempuan kami.”
“Ya Allah, orang yang Engkau hidupkan di antara kami maka hidupkanlah dia dalam (keadaan) Islam, orang yang Engkau wafatkan dari kami maka wafatkanlah mereka dalam keadaan iman).” (HR Tirmidzi, 945)
Doa ini menunjukkan bahwa salat jenazah bukan hanya ibadah untuk mayit, tetapi juga sarana memohonkan ampunan dan keteguhan iman bagi seluruh umat Islam.
4. Bacaan Setelah Takbir Keempat
Setelah takbir keempat, dibaca doa penutup yang menegaskan penghambaan kepada Allah ﷻ, pengakuan bahwa Dialah pencipta, pemberi hidayah, dan pencabut nyawa, serta permohonan ampunan bagi jenazah.
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلْإِسْلَامِ وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا جِئْنَاكَ شُفَعَاء فَاغْفِرْ لَهُ
Allahumma anta rabbuhā wa anta khalaqtahā wa anta hadaytahā lil-islām,
wa anta qabadhta rūḥahā wa anta a‘lamu bisirrihā wa ‘alāniyatihā,
ji’nāka shufa‘ā’a faghfir lahū.
“Ya Allah, engkau adalah Tuhan jenazah tersebut, Engkau telah menciptakannya, dan Engkau telah memberinya petunjuk untuk memeluk agama Islam, dan Engkau telah mencabut nyawanya, Engkau lebih mengetahui terhadap rahasianya dan perkaranya yang nampak.” (HR. Abu Dawud no. 2785)
5. Salam
Shalat jenazah ditutup dengan salam. Rasulullah ﷺ bersabda:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ ابْنِ عَقِيلٍ عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
Ḥaddatsanā ‘Utsmānu bin Abī Syaibah, ḥaddatsanā Wakī‘un, ‘an Sufyāna,
‘an Ibni ‘Aqīlin, ‘an Muḥammadi bin al-Ḥanafiyyah, ‘an ‘Alīyin raḍiyallāhu ‘anhu qāla:
qāla Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam:
miftāḥuṣ-ṣalātiṭ-ṭuhūru, wa taḥrīmuhā at-takbīru, wa taḥlīluhā at-taslīmu.
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan, dari Ibnu 'Aqil dari Muhammad bin Al Hanafiyyah, dari Ali radliallahu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kunci salat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur salat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam." (HR Abu Dawud, 56; Baihaqi, As-Sunanul Kubro, 2: 15)
“Dalam riwayat lain, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan salam dalam salat jenazah sebagaimana salam dalam salat lainnya, meskipun praktik ini kemudian banyak ditinggalkan oleh manusia.
عَنْ عَلْقَمَةَ وَالأَسْوَدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : ثَلاَثُ خِلاَلٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَفْعَلُهُنَّ تَرَكَهُنَّ النَّاسُ إِحْدَاهُنَّ التَّسْلِيمُ عَلَى الْجَنَازَةِ مِثْلَ التَّسْلِيمِ فِى الصَّلاَةِ.
Dari AlqAmah dan Al Aswad, dari Abdullah (Ibn Mas’ud), Ia berkata, “Tiga perkara yang dikerjakan oleh Rasulullah saw. tetapi ditinggalkan oleh manusia: di antaranya salam pada salat jenazah sebagaimana salam pada salat-salat lainnya. (HR Baihaqi dalam As-Sunanul Kubro, 4:43 dan dalam Ma’rifah As-Sunan wal Atsar, 5: 305)
Salat jenazah merupakan ibadah yang sarat dengan doa, kepedulian sosial, dan pengingat akan kematian. Memahami tata cara dan bacaannya sesuai tuntunan Nabi ﷺ adalah bentuk ittiba’ kepada sunnah dan penghormatan terakhir kepada sesama muslim.
Semoga artikel ini menjadi panduan praktis sekaligus bahan edukasi bagi santri dan masyarakat dalam melaksanakan salat jenazah secara benar sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.
Penulis - M Jamaludin Alqosimi, S.E.